Home » Berita » Pelatihan Konservasi (Blue Economy) di School of Marine Protected Area, Wakatobi

Pelatihan Konservasi (Blue Economy) di School of Marine Protected Area, Wakatobi

Materi oleh Rahmawati UmasugiWakatobi, Senin 12 Mei 2014, berlangsung pembukaan pelatihan Konservasi (Perikanan Berkelanjutan) mendukung program Blue Economy di Aula School Marine of Protected Area milik BPSDM-KP di Wakatobi. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi, Drs. H. Nadjib Prasyad, Kabag BAU STP R.M. Toni Kususmo, perwakilan CTC, Denny Boy Mochran, Kasubag TU BPPP Ambon Tedjasari Mahedar S.Sos, Pemerintah Kecamatan Wangi-wangi Selatan, para pelatih konservasi dari BPPP Ambon, panitia pelatihan dan peserta pelatihan sebanyak 30 orang.

Materi KelasKepala Dinas KP Kabupaten Wakatobi dalam sambutannya menyampaikan terima kasih yang sebsar-besarnya kepada BPPP Ambon yang telah berturut-turut mengalokasikan kegiatan di Wakatobi, karena BPSDM-KP dalam hal ini STP yang telah membangun sekolah konservasi internasional di Wakatobi yang kini menjadi kebanggaan masyarakat dan pemerintah Wakatobi. H. Nadjib Prasyad juga menyampaikan kepada peserta bahwa kekayaan Wakatobi yang terbesar saat ini adalah blue ocean (laut biru) dan terumbu karang, yang menjadi modal blue economy. Menurutnya pelatihan ini sangat relevan dengan program pembangunan Kabupaten Wakatobi tentang Perikanan Berkelanjutan. Laut biru butuh pengelolaan yang tepat agar masyarakat Wakatobi bisa hidup dengan lebih baik. Menurut H. Nadjib pengunjung Wakatobi cenderung meningkat dari tahun ke tahun sejak tahun 2008, yang ditandai dengan banyaknya maskapai penerbangan yang masuk di Wakatobi dan bertumbuhnyaMateri Kelas industri perhotelan. Kepala Dinas KP berpesan kepada peserta bahwa jualan utama masyarakat Wakatobi selain wisata adalah ikan segar yang hanya bisa terjaga keberadaannya jika masyarakat bekerjasama menjaga kekayaan laut Wakatobi.

pembuatan biorefftekPada Pelatihan ini para peserta juga dibekali dengan kemampuan membuat perangkat perikanan berkelanjutan yang sederhana yaitu biorefftek atau teknologi pengembangan terumbu karang dengan menggunakan elemen dari mahluk hidup yaitu batok kelapa. teknologo sederhana ini setelah diteliti ternyata sangat baik untuk membantu pertumuhan karang-karang yang baru. selain itu biorefftek ini juga efektif dan ekonomis serta mudah membuatnya sehingga masyarakat bisa membuatnya sendiri. beberapa penelitian memperlihatkan bahwa karang sudah tumbuh pada substrat batok kelapa pada biorefftek dalam waktu sekitar 4 atau 5 bulan sejak biorefftek diturunkan di perairan yang subur untuk terumbu karang.

membawa biorefftek ke lautBiorefftek yang telah kering ini lalu dibawa ke perairan Melai One di Desa Matahora. dengan menggunakan perahu dayung dan bergerak ke arah laut sekitar 500 meter dari garis pantai, sampailah pada perairan yang terdapat terumbu karang yang rusak dan terumbu karang yang masih bagus di sisinya, biorefftek itu kemudian diturunkan dan diletakkan dengan posisi yang rata dan baik sehingga tidak mudah terguling oleh arus. Peserta pelatihan yang terbagi dalam tiga kelompok berdasarkan desanya (Matahora, Longa, dan Patuno) masing-masing membuat biorefftek dan akan menurunkannya pada perairannya masing-masing. Bioreftek ini akan dievaluasi nanti perkembangannya oleh masing-masing kelompok lalu dilaporkan ke BPPP Ambon.

Berbagai materi perikanan berkelanjutan diberikan pada pelatihan konservasi ini di antaranya: mengidentifikasi perikanan; dampak dari perikanan dan non perikanan; perikanan perspektif ekonomi; alat perikanan berkelanjutan; pengelolaan kawasan berdasarkan ruang dan waktu, dan; penegakan aturan. Dari keseluruhan materi dan kegiatan praktek yang diberikan, peserta merasa sangat beruntung dan puas mendapatkan meteri tersebut. Pada akhir kegiatan erlihat hasil post test peserta meningkat dengan nilai yang signifikan, menunjukkan pelatihan berhasil merubah aspek kognitif peserta. Untuk mengevaluasi aspek avektif dan psikomotorik peserta, mereka telah membuat rencana tindak lanjut pelatihan berupa pembuatan biorefftek dan pembuatan papan informasi konservasi di titik-titik konservasi di daerahnya masing-masing. Rencana tindak lanjut tersebut akan mereka lakukan sejak bulan Juli dan Agustus tahun ini.

Pada akhir pelatihan peserta juga mengevaluasi penyelenggaraan pelatihan dan hasilnya peserta menyatakan pelatihan yang dilakukan BPPP Ambon di Sekolah Konservasi Wakatobi ini sangat baik.

 

Baca Juga

Tolak Gratfikasi Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1445 Hijriyah/2024 M

Salam super sahabat #minamania pada tahu gak sih bahwa gratifikasi pada umumnya masih belum dipahami …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *